Menyusuri jalan jogja-wonosari rasanya seperti
menggali lubang yang telah aku tutup rapat-rapat. Susah dan pasti merepotkan,
capek menguras tenaga, dan parahnya yang berjuang dalam hal ini adalah hati.
Apa obat yang paling mujarab melepaskan penat hati ?
apa obat yang dapat
menghilangkan lelahnya setelah menggali kenangan yang sangat dalam-dalam
dikuburnya ?
Aku terdiam,
setiap sudut tempat yang aku pandangi selalu melintas bayangan-bayangan “kita”
,
Ahhh ..
malas sekali rasanya aku melanjutkan perjalanan yang sangat menyiksa ini ,
Rasanya
sangat berbeda, hampa, rasanya sangat dingin tidak seperti biasanya ..
Hembusan
angin malam itu sepertinya sangat mengerti apa yang aku rasakan, berkali-kali
dia meliuk-liuk mencoba memberikan aku kesejukan, tapi ternyata nihil .. aku
tidak merasakan itu aku tetap penat ..
Entah
bagaimana ternyata aku sangat mengingat semuanya, sampai aku tidak
merasakan wajahku dingin dengan air yang keluar dari mataku .. ternyata hatiku
benar-benar lelah, hingga ia menaggis ..
Aku memcoba
menengangkan pikiran, apalah artinya airmata ini ini sudah resiko yang harus
aku tanggung ketika aku memutuskan menutup ‘lubang’ cerita kita yang sudah kita
gali bersama,
aku menutupnya dengan sepihak .. maaf, aku tau aku salah, aku benar-benar
merasakan hali ini.
Aku memang
tidak dapat memperjungkan segalanya, jarak memang berperan denagn antagonis
dalam hubungan kita, jarak seperti sutradara yang degan mudah mengatur kita
untuk bertemu dan tiba-tiba saja memisahkan kita, sangat menyebalkan.
Aku leleh
diatur olehnya, dan aku memilih mundur menjauh darinya yang sama artinya aku
harus menjauh darimu ..
Aku mencoba
menutup kembali ‘lubang’ kita dengan sekuat mungkin, aku menutupnya dengan
penuh cinta.










